Senin, 28 September 2009

Memetik Manfaat Ragam Puasa

Hot Topic Mon, 14 Sep 2009 16:01:00 WIB

Puasa Senin-Kamis hanya salah satu dari banyak jenis atau cara berpuasa yang dijalani oleh warga masyarakat kita, antara lain masyarakat tradisional Jawa. Pernak-perniknya mungkin berbeda-beda, namun esensinya sama, yaitu berlatih untuk menemukan diri sejati, sekaligus memberi manfaat sehat. Mana yang paling pas untuk Anda?

Puasa yang umum dikenal dan dilakukan oleh masyarakat kita tidak hanya puasa yang disarankan oleh agama-agama. Umat Muslim wajib puasa Ramadan misalnya, sedangkan umat Katolik puasa 40 hari di masa pra-Paskah. Di luar itu, para pemeluk agama juga banyak yang menjalankan puasa yang lazim diajarkan sebagai bagian dari budaya tradisional.

Yang lazim diajarkan sebagai bagian dari budaya tradisional berbagai suku di Tanah Air adalah puasa Senin-Kamis dan puasa Nabi Daud (sehari puasa sehari tidak puasa). "Apa pun cara atau jenis puasanya, pada intinya adalah untuk menemukan jati diri," ujar Permadi, SH, yang dikenal sebagai salah satu tokoh Kejawen.

Diakui oleh pemeluk aliran Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa ini bahwa puasa merupakan sarana berlatih untuk memahami Tuhan, berpikir secara jernih, menguasai rasa dan emosi. Puasa juga sekaligus bermanfaat untuk sehatnya metabolisme tubuh dan mengirit pangan.

"Betapa banyak pangan yang bisa dihemat bila semakin banyak orang yang berpuasa," ujar Permadi. Dengan kata lain, berpuasa sebenarnya juga membuat kita lebih bersahabat dengan alam.

Menurunkan yang serbatinggi

Lebih dari itu, konsep puasa sebenarnya memperlihatkan betapa berbedanya konsep sehat antara masyarakat Barat dengan masyarakat tradisional kita. Bila konsep masyarakat Barat dan modern mewajibkan orang makan secara cukup dan lengkap setiap hari agar tubuh sehat, masyarakat tradisional kita menggunakan cara puasa justru untuk mendapatkan kesehatan. Bukan hanya kesehatan lahir, tapi juga kesehatan batin.

"Orang yang terbiasa puasa itu pori-porinya sudah bisa menyerap energi matahari dan udara secara langsung. Jadi meskipun tidak makan, mereka tetap sehat dan memiliki kekuatan lahir batin," kata Permadi.

Puasa biasanya dilakukan untuk lebih mengenal diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. Karena itu, biasanya sebelum berpuasa didahului dengan mandi dan keramas dilanjutkan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak perlu khawatir menjadi lemas dan tidak dapat beraktivitas karena tubuh justru memiliki mekanisme untuk menjadi kuat dengan apa yang dikonsumsi. Melalui puasa yang jenisnya bermacam-macam itu otomatis kelebihan lemak, kolesterol, tekanan darah, maupun kadar gula darah yang tinggi akan turun dan terjaga normal.

Berikut ini beberapa jenis puasa yang dikenal dan sering dilakukan oleh masyarakat kita. Mungkin beberapa di antaranya juga cocok dan baik untuk Anda jalankan.

Puasa Mutih
Puasa mutih bukan berarti makan dan minum apa pun serba putih, seperti susu, nasi, mpek-mpek, bihun. Yang benar adalah bahwa ketika menjalani puasa ini orang hanya diperkenankan makan nasi putih dan minum air saja, selama 24 jam sehari. Biasanya puasa dimulai pukul 18.00 dan diakhiri pada pukul 18.00 keesokan harinya.

Ada dua cara menjalaninya. Yang pertama ialah boleh makan dan minum beberapa kali sehari sesuai waktu makan. Cara kedua adalah hanya makan satu kali pada saat berbuka puasa; dan berlanjut hingga saat bangun tidur di hari kedua baru kembali makan dan minum seperti biasa.

Puasa mutih ini biasanya dilakukan sesuai hari lahir. Hari lahir ini bisa dalam arti sesuai hari weton (40 hari sekali) atau seminggu sekali mengikuti hari saja. Ada yang melakukannya satu hari, tiga hari, tujuh hari, bahkan sampai 40 hari. Artinya, selama itu hanya makan nasi putih dan air saja.

Dalam konsep puasa tradisional ini tidak dikenal istilah makan sahur. Jadi, makan hanya dilakukan petang hari, ditambah malam sebelum tidur.

Puasa Ngrowot
Ini adalah jenis puasa dengan cara hanya makan umbi-umbiah plus minum air putih saja selama 24 jam sehari. Puasa biasanya dimulai petang hari hingga petang hari lagi, dan tidak memerlukan sahur; sama dengan puasa mutih.

Biasanya umbi-umbian yang dimakan adalah singkong, ketela, ubi, kentang, termasuk jagung yang direbus atau dikukus tanpa tambahan garam maupun bahan-bahan lainnya.

Menjalani puasa ini jauh lebih ringan dibanding puasa mutih karena masih dapat merasakan aneka bahan pangan. Dengan demikian, biasanya orang bisa mengonsumsi makanan lebih banyak, dibanding kalau hanya makan nasi putih saja. Namun, bagi mereka yang tidak menyukai umbi-umbian, puasa ngrowot ini akan dirasakan cukup berat.

Puasa ngrowot juga dilakukan dengan dua cara, tergantung kebiasaan masing-masing orang, yaitu selama 24 jam tidak makan dan minum apa pun sampai waktunya berbuka, setelah berbuka juga tetap hanya makan umbi-umbian dan air putih sampai bangun tidur di hari kedua.

Puasa Nganyep
Puasa nganyep mirip puasa ngrowot, yaitu hanya makan makanan serba direbus atau dikukus. Bedanya dengan puasa ngrowot adalah bahan pangan yang dimakan tidak hanya umbi-umbian, melainkan dapat ditambah sayuran dan tempe rebus atau kukus. Sesuai dengan namanya, yaitu nganyep, semua bahan yang dimakan tidak mendapat tambahan bumbu apa pun, termasuk garam.

Puasa nganyep juga dijalankan seperti puasa yang lain, yaitu dimulai pada petang hari dan diakhiri petang hari pula, sekitar pukul 18.00 hingga 18.00 hari berikutnya.

Untuk puasa selama 24 jam sehari itu juga tidak diperlukan sahur. Anda bisa memilih sepanjang 24 jam itu hanya makan dan minum setelah berbuka dan bangun tidur keesokan harinya baru makan dan minum seperti biasa. Atau, Anda bisa tetap makan dan minum seperti biasa, tapi makanan dan minuman yang disesuaikan.

Puasa Nyodot
Puasa nyodotyang dimaksudkan adalah menirukan cara codot (kalong) makan, yaitu hanya buah-buahan segar saja ditambah air putih, tanpa tambahan apa pun.

Puasa bisa dilakukan sejak petang hari sehari sebelumnya hingga petang keesokan harinya, tanpa sahur karena yang menjalani bisa makan dan minum kapan saja sepanjang hanya buah segar dan air. Puasa jenis ini sangat menyenangkan karena biasanya tidak begitu merasakan kelaparan dan kehausan.

Puasa Ngebleng
Ini adalah jenis puasa lengkap. Yang bersangkutan hanya tinggal di dalam kamar tanpa penerangan sama sekali, tidak makan maupun minum, bahkan tidak tidur, tidak berbicara, dan tidak mandi.

Jadi apa yang dilakukan di dalam kamar? Hanya melakukan perenungan, berdoa dan terhubung selalu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Lamanya puasa bisa sehari, tiga hari atau tujuh hari jika sanggup.

Puasa Senin Kamis
Puasa ini banyak dilakukan oleh masyarakat kita. Puasa Senin Kamis biasanya dimulai pada saat magrib Minggu petang diakhiri pada magrib Senin petang. Dilanjutkan pada saat magrib Rabu petang diakhiri magrib Kamis petang.

Untuk puasa Senin Kamis ini ada yang memakai makan sahur, tapi ada juga yang tidak makan sahur, tergantung pada kebiasaan atau keyakinan masing-masing. Mana yang lebih baik dan lebih benar? Tidak ada yang lebih, karena semuanya benar dan baik.

Puasa Rabu Sabtu
Puasa pada hari Rabu Sabtu relatif kurang dikenal dibanding puasa Senin Kamis. Ada pendapat yang diturunkan oleh para sesepuh, bahwa puasa Senin Kamis tidak tepat dilakukan oleh mereka yang belum menikah karena konon kelak dapat menyebabkan gemuk. Karena itu, puasa Rabu Sabtu lebih disarankan untuk dilakukan oleh para gadis dan jejaka.

Puasa Nabi Daud
Ini adalah jenis puasa mengikuti cara Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak puasa. Ada yang pakai makan sahur, tapi sebagian orang juga tidak merasa perlu makan sahur.

Puasa Ngapit Weton
Yang dimaksud ngapit weton adalah mengapit hari lahir. Contohnya, lahir hari Senin Pon, maka puasa dimulai pada petang hari Sabtu Legi dan berakhir pada petang hari Selasa Wage. Puasa jenis ini biasanya dilakukan lebih sebulan sekali, sesuai hari pasaran.

Bagaimana cara puasanya? Ada yang makan dan minum biasa saat berbuka, tapi ada yang menggunakan cara puasa mutih.

Motif Spiritual Berbuah Sehat

Berpuasa pada dasarnya dilakukan untuk motif yang lebih spiritual, yaitu mengenal diri dan menemukan jati diri, sehingga bisa mengenal Tuhan dan menjadi dekat dengan-Nya.

Namun, sebagian orang juga melakukan puasa ketika menginginkan sesuatu. Jadi puasa dilakukan sebagai pertanda kuatnya suatu niat, dengan harapan untuk terwujud menjadi lebih besar. Ada pula orang yang berpuasa, untuk memenuhi nazar ketika doanya terkabul.

Apa pun motifnya, berpuasa memberi efek kesehatan yang baik. Tergantung jenis puasanya, bisanya puasa memberi efek menurunkan berat badan yang berlebih. Selain juga menurunkan kadar lemak, kolesterol, tekanan darah, dan kadar gula darah. Karena itu, puasa sekarang juga menjadi bagian dari metode terapi di sejumlah rumah sakit di negara-negara Barat.

Puasa ngrowot, mutih, nyodot, dan nganyep misalnya dapat menurunkan tekanan darah karena tidak ada konsumsi garam sama sekali. Melalui puasa-puasa tersebut kadar lemak juga akan menurun karena sama sekali tidak mengonsumsi lemak dari daging, susu, santan, mentega, telur, dan lain-lain. Kadar gula pun akan turun, karena tubuh tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan tambahan konsumsi gula baik dari minuman maupun makanan.

Perlu diingat, puasa merupakan suatu metode dengan disiplin tertentu. Karena itu, berpuasa tidak akan menyebabkan sakit. Dengan menjalani puasa tradisional itu, tubuh dibersihkan dari bahan-bahan kimia, garam, maupun lemak hewani serta gula yang sesungguhnya tidak benar-benar dibutuhkan oleh tubuh.

Puasa sangat berbeda dengan cara membabi buta orang yangg ingin langsing dengan cara menyingkirkan makanan dari meja makan. Hasilnya justru bisaa menyebabkan kekurangan gizi dan lemahnya daya tahan, walaupun tubuh langsing.

Sumber: Senior

Selasa, 22 September 2009

Kenapa jadi pikun?.

Kelebihan Kolesterol di Paruh Baya, Beresiko Pikun di Usia Tua



Sebuah studi menemukan, orang-orang paruh baya, usia antara 40 - 45 tahun, yang mempunyai kelebihan kolesterol dalam tubuh atau mengalami kegemukan, paling beresiko menderita kepikunan pada usia tua nanti.

"Ini merupakan studi pertama yang mencari penyebab resiko menderita Alzheimer di usia tua," ujar Dr. Rachel Whitmen, peneliti dari Kaiser Permanente Division of Research in Oakland, California, Amerika Serikat," kami mencari beberapa faktor di usia paruh baya, yang dapat menyebabkan kepikunan pada usia tua. Dan kolesterol merupakan faktor penyebab yang penting."

Studi yang dipublikasikan di Journal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders, melibatkan 9.844 orang-orang berumur 40 - 45 tahun, yang menjalani usianya itu pada tahun 1964 - 1973.

Dari hasil penelitian penelitian laporan kesehatan mereka pada tahun 1994-2007, diketahui bahwa 469 dari mereka menderita penyakit Alzheimer, dan 127 dari mereka menderita Dementia. Dua penyakit yang disebabkan karena pembuluh darah tersumbat kandungan kolesterol tinggi, sehingga suplai darah ke otak terganggu, yang menyebabkan kepikunan.

Penyakit Alzheimer adalah keadaan di mana daya ingatan seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu mengurus diri sendiri, atau sering lupa atau kepikunan, biasanya diderita orang lanjut usia.

Sedangkan penyakit Dementia, merupakan Alzheimer tingkat lanjut, dimana penderita mengalami kepikunan tingkat akut. Gangguan kepikunan sudah sampai pada kemampuan kognitif yang meliputi kemampuan konsentrasi berkurang, intelektual ( berhitung), bersosialisasi (berbicara), memori, orientasi (seperti tidak tahu lagi sekarang hari apa, dimana, siapa dirinya), serta gangguan apraxia (ketidakmampuan melakukan satu paket gerakan rutin seperti memakai kemeja). Juga kadang dikenal sebagai salah satu varian dari jenis penyakit stroke.

Dari penelitian Dr. Rachel Whitmen, ditemukan bahwa orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol dibawah 200 miligram per desiliter darah (200 mg/dL) pada usia 40 - 45 tahun, kelak pada usia 30 tahun kemudian, ternyata mempunyai resiko menderita kepikunan yang lebih rendah.

Sedangkan 57 persen orang yang mempunyai kadar kolesterol lebih dari 240 mg/dL pada usia 40 - 45 tahun, pada usia 70-an, ternyata sangat beresiko menderita penyakit Alzheimer atau Dementia.

Garis batas kandungan kolesterol dalam darah ditemukan pada angka kandungan 200 - 239 mg/dL dalam darah.

Jika Anda mempunyai kadar kolesterol dalam darah kurang dari 200 -239 mg/dL pada usia 40-an tahun, tampaknya resiko Alzheimer di usia lanjut lebih rendah, jika dibandingkan yang mempunyai kandungan kolesterol darah lebih dari 200 - 239 mg/dL.

Dari studi juga diketahui, orang yang mempunyai kolesterol darah lebih dari itu angka batas itu, 50 persennya beresiko menderita penyakit Dementia atau stroke. Semakin tinggi nilai kelebihan kolesterol dalam darah, maka resiko jenis penyakit yang diderita juga semakin meningkat.

Penemuan Whitmer ini penting, untuk menentukan perlakuan apa yang perlu dipersiapkan oleh seseorang pada usia tua kelak. Kalau Anda mempunyai kolesterol darah lebih tinggi dari angka itu, Anda bisa mempersiapkan diri, bentuk terapi apa kelak diusia lanjut.

" We make a living by what we get and make a life by what we give "