Senin, 15 September 2008

BANGSAWAN


Saya meemukan iklan jam tangan TITONI dimajalah STAR WEEKLY yang terbit diera tahun 50 an.
Saya jadi teringat masa lalu saya sebagai seorang bangsawan
... karena arloji kata lain dari jam tangan biasanya menjadi kelengkapan yang penting buat seorang bangsawan.

Memiliki profesi sebagai bangsawan ( bangsanya karyawan; Direktur, Manager, Supervisor, Staf, bahkan hingga Office boy ), memang memiliki beberapa keterbatasan dalam hal pendapatan. Namun apakah dengan itu anda harus menunggu sampai punya pendapatan besar baru bisa menggapai kemakmuran?

TIDAK, anda tetap bisa makmur berapapun besar atau kecilnya pendapatan anda karena kemakmuran tidak dilihat dari berapa besarnya pendapatan anda tapi seberapa pintarnya anda mengelola pendapatan anda itu. Setuju?

Contoh yang sangat masuk akal. Cobalah anda lihat sekeliling anda. Apakah ada seseorang yang mempunyai pendapatan sekitar 1 juta-an, memiliki istri dan dua orang anak, namun masih sanggup menjalani hidup dan tidak ngutang sana-sini. Sedangkan ada seseorang yang mempunyai penghasilan sekitar 4 juta-an, namun setiap tanggal 20-25 an gajinya sudah ludes des des.. sampai-sampai harus ngutang sana-sini. ( wah.... nyindir :P )

Contoh satu lagi, coba anda ingat-ingat teman SD anda. Bagaimana kondisi dia saat itu, saat anda bersama dengan dia di satu sekolah. Namun setelah anda lihat di hari ini kok sepertinya dia lebih sukses dari saya yah... padahal dulu tampangnya culun-culun lho. Kok bisa yah dia sudah punya rumah dan mobil pribadi, sedangkan saya masih mobil pinjaman kantor dan tinggal di rumah orang tua. (hua.. hua.. hua....)

Contoh yang lain lagi, disekitar tempat tinggalku ada satu keluarga baru baru satu tahun menempati rumah yang baru dibelinya dan kemudian direnovasi.
Menurut ukuran saya sebelum direnovasi rumah tersebut keadaanya masih sangat baik .... karena sebelum dijual oleh pemilik lama bagian yang agak rusak sudah diperbaiki dan semuanya telah dicat baru. Menurut info mereka baru mendapat warisan dari orang tuanya.
Sukuranpun menempati rumah baru diselenggarakan dengan meriah, kelarga dan teman-temannya ikut senang dan gembira.... termasuk kita sebagai calon tetangga.
Sebagai tetangga tentu saya secara tidak langsung mendapat informasi, keluarga tersebut sangat ideal dengan karier dan pendapatan yang cukup baik.
Tetapi setahun kemudian kami mendengar informasi, rumah tersebut dijual dan tanpa kabar berita entah kemana keluarga tersebut pindah.
Belakangan penghuni baru yang membeli rumah tersebut ...... mengeluh sering didatangi debt colector .... yang mencari penghuni lama .... yang ternyata punya masalah dengan kartu kreditnya banyak.

Ada contoh kasus yang lain lagi : Seorang teman saya katakanlah begitu ... mempunyai karier yang baik disalah satu perusahaan minyak asing. Mempunyai gaji yang sangat besar menurut ukuran saya, disamping itu mempunyai berbagai fasilitas seperti rumah dinas, jaminan kesehatan, sekolah gratis untuk anak2-nya, cuti tahunan keluar negri untuk sekeluarga, bahkan pembantu dan supirpun dibayarin perusahaan. Sungguh nyaman.... yang perlu dipikirkan cuma tugas dan pekerjaan. Tapi rupanya ada yang lupa ... beliau tidak pernah merencanakan dan melihat kemasa depan hidupnya. Kenapa begitu?. Beliau selepas sekolah langsung dapat pekerjaan lalu karirnya bertambah baik sesuai dengan pertambahan umurnya ... begitu juga rezki berupa materi beliau selalu merasa berkecukupan ... dan didapat untuk digunakan. Masa pensiun nanti ... cukuplah kita kembali kekampung hidup sederhana disana... kan dapat pesangon lumayan besar. Kemudian hari bahagia yang dinantikan tiba : Pensiun dini. Rupanya dari sini titik awal kehidupan yang sebenarnya, keluar dari rumah dinas hanya bawa koper dan mobil peribadi yang bagus... karena tidak pernah berpikir untuk nyicil beli perabotan rumah tangga ... karena lengkap disediakan perusahaan. Juga enggak pernah berpikir untuk beli atau nyicil rumah dikampung selama beliau berdinas. Sehingga tugas pertama menjelang pensiun... cari rumah ... sebagai mana kita ketahui ... menyita waktu dan tenaga. Memikirkan bagaimana mengelola uang pensiun agar dapat menghasilkan uang paling tidak supaya tidak cepat berkurang... karena merubah pola hidup konsuptif ternyata tidak mudah. Selanjutnya bagaimana?. Ternyata membeli rumah ... menghabiskan 50% uang pensiun. Karena biasanya hidup agak royal 10% habis untuk membagi-bagi saudara dan teman yang beliau selalu santuni dimasa beliau bekerja. Jadi beliau cuma punya sisanya 30% lagi yang dicanangkan untuk diputar sebagi modal. Karena belum pernah bisnis diserahkannya keorang lain yang menurut iklan menjanjikan bisa berbunga cukup besar.... tetapi kenyataannya ... malah modal beliau susah ditarik. Untuk menarik uang tersebut ternyata tidaklah mudah ... malah perlu bayar pengacara dan pengadilan.

Pertanyaanya disini adalah, SEBARAPA PINTARKAH ANDA MENGELOLA PENDAPATAN ANDA SELAMA INI?

Hingga anda mencapai S5, (SD, SMP, SMA, SARJANA, PASCA SARJANA) hal ini tidak diajarkan juga. Bukan karena kedua orang tua tidak mencintai kita. Namun memang karena mereka tidak tahu secara angka real bagaimana dan berapa angka yang pasti untuk dikelola.

Mencontoh pengalaman orang lain yang baik dan selalu belajar dari pengalaman buruk diwaktu yang lalu ... berangkali dapat membantu kita mengatur pola hidup kita agar bisa hidup lebih baik.

Dari ketiga kasus diatas .... mau tidak mau harus diakui ... sebetulnya kira-kira seperti itulah... hidup seorang bangsawan ....he,he,he.


Pepatah orang tua sunda :
Ulah kumaha engke ( jangan bagaimana nanti) tapi
Engke kumaha ( nanti akibatnya bagaimana ).

Kesimpulan iklan jamtangan (1955) diatas kurang tepat .... VEER (maksudnya per) yang tidak akan putus selama-lamanya ... tidak pernah ada.

Hidup untuk makan.


Sejak beberapa hari ini saya merasa sangat sedih setelah mendengar dan melihat tayangan berita TV di Indonesia ….

Bahwa ada orang yang mengusahakan makanan daur ulang dari produk daluarsa dan bahkan mengolah daging sisa makanan dari hotel dan restoran untuk dijual.
Bagaimana ini bisa terjadi dinegri kita ini?.

Saya jadi teringat cerita ustadz waktu ngaji masa kecil dulu.

Diceritakan ada seorang wanita sedang mengidam mencium bau harum makanan yang sedang dimasak tetangganya. Tak tahan menahan keinginannya, maka meminta suaminya untuk minta sedikit sekadar mencicipi makanan yang baunya harum tersebut.
Untuk memenuhi permintaan istrinya sang suami memberanikan minta sedikit, ternyata orang miskin itu tidak memberinya. Malah berkata: " Makanan ini halal buat kami, tetapi haram buat orang lain".
Singkat cerita, ternyata tetangganya sangat miskin dan terpaksa karena sudah beberapa hari tidak makan, memasak ayam sudah mati kemudian baunya tercium oleh tetangganya yang sedang ngidam.

Seperti dicerita tadi rupanya kita sering tidak tahu kehidupan diluar lingkup kehidupan kita sehari-hari. Kita baru terkejut setelah melihat atau membaca berita yang tentunya ditulis oleh wartawan yang peduli.

Disisi lain tentu kita tahu … hampir semua channel TV menyajikan acara kuliner ..yang menyajikan makanan yang enak-enak dan dimana bisa dicari. Ditujukan juga tayangan makanan tersebut sekadar dicicipi ……tidak pernah dihabiskan … dan pesannya juga banyak … porsi yang besar dan kelihatannya sangat enak.
Kemana sisa makanan itu pergi?. Dibagikan kepada kru TV?. Saya kira tidak mungkin … ujung-ujungnya tong sampah…..

Demikian juga kalau kita makan di Restoran … kita masih melihat orang-orang memesan makanan yang mahal dan enak-enak tetapi cuma untuk dicicipi.
Kalau kita mendapat undangan pesta pernikahan misalnya tidak jarang …. melihat orang mengambil makanan sepiring muncung kemudian tidak dihabiskannya ….
Karena melihat sajian lain yang menarik digubuk2-makanan, karena makannya sambil jalan2…sambil mengingat jenis makanan yang mana yang belum dicoba. Kalau merasa tidak cocok dengan selera tinggal ganti piring saja. Hidup untuk makan.
Seandainya boleh bertanya kepada petugas kebersihan dapur hotel, gedung resepsi … restoran bahkan warung tenda yang sangat popular untuk kaum pencinta kuliner.
"Berapa banyak sisa makanan yang harus dibuang….. setiap hari".
Jawabannya " Lumayan pak ".
Padahal masih ada saudara-saudara kita yang belum punya makanan untuk hari yang sama.

Jadi yang salah siapa …. Yang punya hotel atau restoran tidak bisa disalahkan … mereka tidak bisa berbuat lain kecuali membuang makanan sisa tersebut.

Salahkah mereka yang terpaksa menyantap makanan daur ulang?. Mereka makan untuk sekadar bisa hidup.

Menyantap makanan enak tentu boleh-boleh saja tetapi kita harus bersyukur dengan rezki kita secara bijak.
Jangan menyisakan makanan dipiring, kalau direstoran jangan membiarkan makanan tersisa, bawalah pulang sebagai "doggie pack" … padahal untuk makan sahur…he,he,he.
Jangan sisakan untuk perusahaan daur ulang. Pelayan sudah paham ..... tidak akan dicampur dengan makanan sisa orang lain.
Sisihkan sebagian harta kita untuk fakir miskin …. Bulan puasa ini adalah waktu untuk berinfak dan sedekah.
Termasuk golongan manakah kita ini ... Orang yang hidup untuk makan atau makan untuk hidup.

Selasa, 09 September 2008

Ngeblog itu asik.


Sebetulnya hari ini belum ada niatan untuk menulis, tapi begitulah tiba2 ingin membuat blog baru yang isinya kira2 agak berbeda dari blog saya yang terdahulu ...
Tetapi ternyata idenya belum ada....
Jadi saya posting saja foto keluarga kami yang lucu ini .... sudah gendut-gendut ... pake jaket tebal kegedean.... he,he,he. Waktu itu rupanya merupakan kesempatan yang terbaik kami dapat kumpul lengkap sekeluarga. Dari kiri kekanan istri saya( Ibu Nyai), kemudian saya(Kang Eppy) berturut-turut kemudian Rina, Rani (Si Kembar) dan sang sulung Hendra.
Sementara kalau mau lebih kenal, mampir dulu deh dengan mengklik tautan berikut "blog saya yang lain".