Senin, 15 September 2008

Hidup untuk makan.


Sejak beberapa hari ini saya merasa sangat sedih setelah mendengar dan melihat tayangan berita TV di Indonesia ….

Bahwa ada orang yang mengusahakan makanan daur ulang dari produk daluarsa dan bahkan mengolah daging sisa makanan dari hotel dan restoran untuk dijual.
Bagaimana ini bisa terjadi dinegri kita ini?.

Saya jadi teringat cerita ustadz waktu ngaji masa kecil dulu.

Diceritakan ada seorang wanita sedang mengidam mencium bau harum makanan yang sedang dimasak tetangganya. Tak tahan menahan keinginannya, maka meminta suaminya untuk minta sedikit sekadar mencicipi makanan yang baunya harum tersebut.
Untuk memenuhi permintaan istrinya sang suami memberanikan minta sedikit, ternyata orang miskin itu tidak memberinya. Malah berkata: " Makanan ini halal buat kami, tetapi haram buat orang lain".
Singkat cerita, ternyata tetangganya sangat miskin dan terpaksa karena sudah beberapa hari tidak makan, memasak ayam sudah mati kemudian baunya tercium oleh tetangganya yang sedang ngidam.

Seperti dicerita tadi rupanya kita sering tidak tahu kehidupan diluar lingkup kehidupan kita sehari-hari. Kita baru terkejut setelah melihat atau membaca berita yang tentunya ditulis oleh wartawan yang peduli.

Disisi lain tentu kita tahu … hampir semua channel TV menyajikan acara kuliner ..yang menyajikan makanan yang enak-enak dan dimana bisa dicari. Ditujukan juga tayangan makanan tersebut sekadar dicicipi ……tidak pernah dihabiskan … dan pesannya juga banyak … porsi yang besar dan kelihatannya sangat enak.
Kemana sisa makanan itu pergi?. Dibagikan kepada kru TV?. Saya kira tidak mungkin … ujung-ujungnya tong sampah…..

Demikian juga kalau kita makan di Restoran … kita masih melihat orang-orang memesan makanan yang mahal dan enak-enak tetapi cuma untuk dicicipi.
Kalau kita mendapat undangan pesta pernikahan misalnya tidak jarang …. melihat orang mengambil makanan sepiring muncung kemudian tidak dihabiskannya ….
Karena melihat sajian lain yang menarik digubuk2-makanan, karena makannya sambil jalan2…sambil mengingat jenis makanan yang mana yang belum dicoba. Kalau merasa tidak cocok dengan selera tinggal ganti piring saja. Hidup untuk makan.
Seandainya boleh bertanya kepada petugas kebersihan dapur hotel, gedung resepsi … restoran bahkan warung tenda yang sangat popular untuk kaum pencinta kuliner.
"Berapa banyak sisa makanan yang harus dibuang….. setiap hari".
Jawabannya " Lumayan pak ".
Padahal masih ada saudara-saudara kita yang belum punya makanan untuk hari yang sama.

Jadi yang salah siapa …. Yang punya hotel atau restoran tidak bisa disalahkan … mereka tidak bisa berbuat lain kecuali membuang makanan sisa tersebut.

Salahkah mereka yang terpaksa menyantap makanan daur ulang?. Mereka makan untuk sekadar bisa hidup.

Menyantap makanan enak tentu boleh-boleh saja tetapi kita harus bersyukur dengan rezki kita secara bijak.
Jangan menyisakan makanan dipiring, kalau direstoran jangan membiarkan makanan tersisa, bawalah pulang sebagai "doggie pack" … padahal untuk makan sahur…he,he,he.
Jangan sisakan untuk perusahaan daur ulang. Pelayan sudah paham ..... tidak akan dicampur dengan makanan sisa orang lain.
Sisihkan sebagian harta kita untuk fakir miskin …. Bulan puasa ini adalah waktu untuk berinfak dan sedekah.
Termasuk golongan manakah kita ini ... Orang yang hidup untuk makan atau makan untuk hidup.

Tidak ada komentar: